Jumat, 23 Desember 2011

Secrets Of The Chinese Palace (Rahasia Istana Cina)



Rilis            :2001
Halaman    :199p
     Penerbit    : Lucky Publisher
      Harga : Rp.29.800,-
Memiliki banyak istri atau selir?  Bila  zaman sekarang istilahnya poligami dan masih menjadi perdebatan di masyarakat.  Tetapi bila zaman dulu alias zaman dinasti-dinasti kaisar,  sepertinya raja atau penguasa memiliki banyak istri itu seperti kewajiban.. :[ Jadi bila seorang raja memiliki istri atau selir 100 atau lebih itu sih biasa..:p
Nah, buku yang kita bahas kali ini adalah tentang Rahasia Istana China, yaa..rahasianya, apalagi kalo bukan  tentang selir-selir mereka dan intrik di dalamnya. Raja – raja di China jaman dulu yang dikisahkan di sini antara lain: Kaisar Yuan, Kaisar Zhu Houcong,Kaisar Zhu Yuanzhang, Raja Chu dan Sima Yan. Juga tentang para Istri Kaisar: Bao Si, Xia Ji,Zhao Ji,Wang Zhi,Wei Zifu,Zhao Feiyan & Zhao Hede dan Deng Sui. Tak ketinggalan tentang aturan-aturan di Istana,Catatan Rinci dalam memilih istri kaisar.
Buku ini diceritakan dengan ilustrasi, jadi cerita – cerita yang disampaikan berbentuk semacam komik , yang dibuat oleh Tian Hengyu dan diterjemahkan oleh Clara Show. Tian Hengyu mengilustrasikan dengan sangat baik dan “hidup” sehingga saat membaca kisah ini selain kita akan dibuat tertawa-tawa oleh kisahnya juga oleh penggambaranya yang lucu-lucu.
Saya akan ceritakan salah satunya tentang syarat-syarat jika ingin menjadi istri kaisar. Bila zaman sekarang ada kontes “Miss-miss-an,” zaman dulu sepertinya hal itu juga sudah ada, tentu tujuannya untuk jadi istri kaisar. Semua anggota tubuh diperiksa dengan seksama oleh pejabat istana yang bertugas “memeriksa” calon istri kaisar.
Misalnya Kaisar Huan (tahun 147 sesudah Kristus), dia mempunyai kandidat calon istri bernama Nona Liang. Sebelum dibawa untuk “diperiksa” di istana, Nona Liang yang merupakan anak seorang Jenderal di pantau lebih dulu perilakunya oleh pejabat istana. Setelah dipastikan bagus, maka dia akan diboyong ke istana, untuk diperika total semua bagian tubuhnya.
Dalam deskripsi buku ini Nona Liang digambarkan:
Matanya bening dan ekspresif, alis matanya melengkung bak rembulan, bibirnya merah delima, giginya bak mutiara, telinganya indah,warna kulitnya mulus bak bunga lili,hidungmya bangir,dagunya manis,pipinya cantik. Istimewa!”
Rambutnya hitam pekat mengkilat, menjadi 8 gulungan penuh apabila digulung di tangan,panjangnya hingga ke lantai dan masih menyisakan 12,5 sentimeter”  (hal.22)
Kulitnya mulus serta wangi, tanpa bercak apapun. Pinggulnya padat berisi buah dadanya indah dan kencang. Pusarnya baik dan dapat dipasangi mutiara berdiameter 1,2 cm”
Saya pastikan dia masih perawan”
Tinggi: 163 cm; lebar pundak: 36,8 cm; pinggang: 58,7 cm; lebar pinggul: 35,9 cm; dari pundak ke ujung jari: 62,1 cm; dari ujung jari ke telapak tangan: 8,2 cm. Semua jarinya lentik. Dari paha ke tumit: 73,67 cm; panjang masing-masing kaki: 16,4 cm. Kakinya mulus, padat serta indah bentuknya; telapak kakinya rata; jari-jari kakinya rapat. Tubuhnya mulus tak berbercak.” (hal.23)
Tidak ada tanda-tanda ambeien”
Suaranya seperti suling manis dan sangat enak didengar”(hal.24)

Well,apakah Anda ada yang memiliki kriteria seperti diatas? Jika ya, sepertinya Anda layak jadi permaisuri…:D. Dan masih banyak kisah-kisah lain tentang perilaku kaisar-kaisar dalam berhubungan intim dengan para selir-selirnya.
Jika Anda menyukai komik-komik Jepang, tak ada salahnya jika sesekali Anda membaca juga komik tentang kaisar-kaisar China ini.
Gaya bahasanya yang tenang, pilihan –pilihan kata yang renyah dan alur cerita yang tidak mudah di tebak membuat kita dapat menikmati bacaan ini. Berikut dengan tampilan-tampilan gambar yang lucu dan cerita – cerita yang bukan merupakan kebudayaan kita menjadi pembaca tidak bosan. Jadi saya rasa, bacaan ini pas sekali untuk merefresh otak kita yang sedang kaku.
Secara pesan moral mungkin tidak ada yang terlalu berat disampaikan dalam buku ini, tetapi memang buku ini di sampaikan dari sudut pandang keunikan dan kelucuan-kelucuannya tentang kisah kaisar-kaisar China dengan selir-selirnya. Satu yang dapat saya ambil dari bacaan ini adalah “ selesaikan masalah dengan sesuatu yang sederhana, yang terkadang kita tak pernah menganggap hal itu penting “






Tak Bayar Sumbangan Insidentil, Siswa SMA Negeri 2 Sidoarjo Haram Ikut UTS


PUNGUTAN SEKOLAH. Para orang tua siswa baru SMA Negeri 2 Sidoarjo gelisah. Pasalnya mereka diminta Komite Sekolah
untuk membayar Sumbangan Insidentil sebesar Rp 1,5 juta. Sebelumnya mereka juga diminta memberikan sumbangan pembelian AC, yang jumlahnya terkumpul sekitar Rp 500 juta.
KENDATI pungutan uang gedung pada siswa baru sudah diharamkan Pemerintah Indonesia sejak tahun 2010, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merestui para aparat penegak hukum untuk melakukan proses hukum terhadap sekolah-sekolah yang menerapkan pungutan uang gedung.
Ironisnya larangan tersebut dilanggar oleh mayoritas SMA Negeri di Kab. Sidoarjo. Mereka nekat menyelenggaraan pungutan uang gedung. Namun istilah pungutan uang gedung tersebut dan teknik pelaksanaannya diubah. Strategi ini untuk mengaburkan pungutan “haram” tersebut dari endusan aparat hukum dan pengawas sekolah yang dilakukan Kementrian Pendidikan Nasional, Kementrian Dalam Negeri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur, dan Dinas Pendidikan (Dindik) Kab. Sidoarjo.
Salah satu sekolah yang melakukan pungutan uang gedung tersebut, adalah Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 2 Sidoarjo. Jumlah uang pungutan tersebut sebesar Rp 1,5 juta per siswa baru. Untuk mengelabuhi aparat hukum dan pengawas pendidikan nasional dari pusat dan daerah, maka nama pungutan di sekolah yang dipimpin Drs. H. Sulaiman Suwarto M.Pd itu disebut ”sumbangan insidentil”.
Teknik penyelenggaraan sumbangan insidentil itu dikemas sebagai hasil karya pertemuan antara para orang tua siswa baru dengan Komite SMAN 2 Sidoarjo, awal Agustus silam. Pertemuan yang diikuti mayoritas orang tua siswa baru itu direkayasa untuk sepakat memutuskan Rp 1,5 juta sebagai nilai uang sumbangan insidentil tersebut. Dengan jumlah siswa baru sekitar 388 pelajar, maka jumlah sumbangan insidentil (uang gedung) yang akan masuk sebesar Rp 582.000.000,00.
”Nilai sumbangan insidentil itu sangat tinggi dan memberatkan kami. Namun kami tak bisa berbuat banyak. Kami takut anak kami akan menjadi korban manajemen sekolah jika kami menolak dan melakukan protes,” kata salah satu orang tua siswa baru SMAN 2 Sidoarjo sembari wanti-wanti agar namanya tidak dikorankan.
Tak dipungkiri pria parobaya itu, bahwa dia sempat curiga terhadap status sumbangan insidentil tersebut. Pasalnya standarisasi pemanfaatan sumbangan tersebut hampir sama dengan pemanfaatan dana yang didapat SMAN 2 Sidoarjo dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan anggaran pendidikan dari APBD Kab. Sidoarjo. Sumbangan insidentil itu peruntukannya untuk pembanguan sekolah, yang selama ini sudah mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 596,144 miliar dari APBD Pemkab Sidoarjo tahun 2011.
DANA APBD

MENGUNGKAP. Wabup H. MG Hadi Sutjipto meminta Kadindik Ir. Agoes Boedi Tjahjono, MT mengungkap dan menindak dalang penyelenggaraan sumbangan insidentil dan pembelian AC di SMA Negeri 2 Sidoarjo.
Sedangkan pembangunan gedung SMA Negeri 2 Sidoarjo, menurut Sekdakab Sidoarjo Vino Rudy Muntiawan, sebesar Rp. 11.292.625.000. Dana pembangunannya termasuk dalam salah satu dari sembilan proyek yang dibangun dengan menggunakan dana APBD Sidoarjo 2007 hingga 2010  sebesar Rp. 46.070.470.329.
Sembilan proyek pembangunan itu diantaranya pembangunan kantor Perpustakaan dan Arsip, Puskesmas Sukodono, gedung SMPN 2 Sidoarjo, gedung SMAN 2 Sidoarjo, aula SMPN 1 Sidoarjo, kantor Kecamatan Taman, Pasar Kedung Rejo Kecamatan Waru, Jembatan Bangsri Plumbungan dan Jembatan Simpang Enam Dungus Kecamatan Sukodono.
Karena itu, dia sangat kaget saat mengetahui, bahwa Komite SMA Negeri 2 Sidoarjo meminta para orang tua siswa baru periode 2011-2012 untuk memberikan sumbangan insidentil sebesar Rp 1,5 juta, yang salah satu alokasi sumbangan itu untuk pembangunan sekolah.
Selama ini pembangunan semua sekolah negeri di Kab. Sidoarjo diselesaikan lewat alokasi anggaran APBD. Karena itu, merupakan sebuah bentuk pelanggaran jika SMA Negeri 2 masih meminta sumbangan insidentil lagi pada para orang tua siswa baru,” katanya saat dihubungi, Rabu (5/10).
Sikap keras juga ditunjukkan oleh Wakil Bupati H. Hadi Sutjipto saat mendengar adanya pungutan sumbangan insidentil yang dilakukan oleh Komite SMA Negeri 2 Sidoarjo. Menurut mantan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kab. Sidoarjo ini, semua sekolah negeri yang ada di wilayah kerja Kab. Sidoarjo diharamkan melakukan pungutan terhadap siswa baru. Pasalnya selama ini semua kebutuhan proses belajar mengajar yang berlangsung sudah dipenuhi Pemkab lewat alokasi dana dari APBD.
Tidak hanya adanya sumbangan insidentil saja yang didengar Wabup terjadi di SMA Negeri 2 Sidoarjo. Pria yang juga Ketua Takmir Masjid Agung Sidoarjo itu, juga mendengan adanya permintaan sumbangan pada orang tua siswa, dengan peruntukan untuk pembelian AC (Air conditioning) kelas. Jumlah yang terkumpul sekitar Rp 500 juta, tapi saat uang sumbangan yang terkumpul itu hingga saat ini tidak dibelikan AC.
Karena itu, dia meminta Kepala Dindik Kab. Sidoarjo, Ir. Agoes Boedi Tjahjono, MT., untuk segera menyelesaikan rumour tentang adanya pungutan sumbangan insidentil dan sumbangan pembelian AC yang dilakukan Komite SMA Negeri 2 Sidoarjo. Sebab penyelenggaraan sumbangan itu merupakan bentuk pelanggaran serius, yang harus mendapatkan sanksi administrasi atau sanksi lain yang lebih berat. Apalagi soal pembayaran sumabangan insidentil itu dikaitkan dengan hak para siswa untuk mengikuti UTS (Ujian Tengah Semester).
”Saya minta uang sumbangan pembelian AC atau sumbangan insidentil yang sudah masuk hendaknya dikembalikan pada orang tua para siswa baru. Selain itu, Dindik harus mengungkap dalang penyelenggaraan sumbangan tersebut untuk diganjar sanksi, sehingga tidak terulang di tahun-tahun akan dating,” katanya saat dihubungi di ruang dinasnya.
TINDAKAN HUKUM
Sedangkan Wakil Ketua KPK (Komisi pemberantasan Korupsi), M Jasin menilai, bentuk sumbangan apapun yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah negeri terhadap orang tua siswa merubakan bentuk pungutan liar. Praktek itu termasuk bagian dari tindak pidana korupsi.
Dia menjelaskan, berdasarkan aturan Pasal 12 c Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), perbuatan pungutan liar yang dilakukan oknum kepala sekolah dan guru, dapat dikategorikan sebagai gratifikasi.
“Gratifikasi itu tidak hanya penyelenggara negara tetapi pegawai negeri juga, besar atau kecilnya pungutan. Namun kalau pegawai negeri terima uang di luar gaji yang berhubungan dengan pekerjaannya adalah suap dan korupsi,” kata Yasin.
Setiap sekolah, terutama yang berstatus negeri, menurut dia, sudah mendapatkan dana BOS (Dana Bantuan Operasional) sekolah untuk kegiatan belajar dan mengajar. Sehingga kalau terjadi praktik pungutan liar dengan alasan untuk kegiatan operasional sekolah yang tidak dicukupi oleh dana BOS, besar kemungkinan si oknum yang melakukan pungutan liar, telah menyelewengkan dana BOS itu sendiri.
“Oknum kepala sekolah dan guru yang melakukan pungutan liar diduga menyelewengkan dana BOS. Karena itu, jerat hukum sebagai koruptor layak dilakukan,” ujarnya.
Demikian pula sikap yang ditunjukkan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal saat dihubungi. Menurut dia, guru atau kepala sekolah yang melakukan pungutan bisa dikenai sanksi administratif, antara lain, dicabut dari jabatan dan dipecat status pegawai negeri sipil (PNS) dengan tidak hormat.
Sikap kerasnya itu, karena data Kementerian Pendidikan Nasional menunjukkan, pada tahun 2011 jumlah siswa yang harus dibiayai pemerintah sebanyak 44,29 juta orang, sehingga total pagu indikatif anggaran BOS yang disediakan mencapai Rp 19,858 triliun. Adapun tahun 2012 diperkirakan ada kenaikan jumlah siswa yang menjadi dasar perhitungan BOS, yakni jadi 44,712 juta orang. Dengan rencana kenaikan sekitar 39,35 persen, anggaran BOS yang diusulkan Kementerian Pendidikan Nasional meningkat menjadi Rp 27,673 triliun pada 2012.
Menurut Fasli, struktur biaya pendidikan memiliki tiga komponen, yakni pertama biaya pengelolaan pendidikan. Kedua, biaya di satuan pendidikan. Ketiga, biaya pribadi peserta didik. Selama ini, BOS hanya menutup dua komponen biaya, yakni biaya pengelolaan pendidikan dan biaya di satuan pendidikan. Karena itu, semua bentuk sumbangan apa pun untuk kepentingan sekolah termasuk pungutan liar, sehingga para pelakunya harus mendapat tindakan keras yaitu berupa sanksi hukum sesuai kapasitasnya dalam praktik pungutan liar tersebut.








Terlalu, Biaya Daftar Ulang Siswa Tak Bisa Dicicil


Terlalu, Biaya Daftar Ulang Siswa Tak Bisa Dicicil , Bulan lalu, Juli 2011 sudah masuk Tahun Ajaran Baru (TAB) 2011-2012. Hampir semua sekolah menyelenggarakan pendaftaran ulang bagi siswa-siswinya. Pendaftaran Ulang di setiap sekolah berbeda-beda kebijakannya. Ada sekolah yang mengadakan biaya pungutan, ada juga sekolah yang tidak mengadakan pungutan dalam pelaksanaan pendaftaran ulang tersebut.
Seperti di Bangkalan, daftar ulang siswa kelas XI dan XII (kelas 2 dan 3) SMA Negeri di Bangkalan dirasakan oleh para orang tua telah ‘mencekik’ leher orang tua siswa, terutama dari kalangan ekonomi bawah. Wali murid ini harus membayar tunai Rp1 juta lebih, tidak boleh dicicil.
Daftar ulang siswa di SMAN 2 Bangkalan, sebesar Rp 1.060.000, dirasa memberatkan para orang tua. “Dari mana saya harus membayar daftar ulang anak saya satu juta. Untuk makan sehari-hari saya harus mendapatkan penumpang,” kata seorang tukang becak di jalan Halim Perdanakusuma kota Bangkalan, Kamis (30/6/2011) malam.
Apa boleh buat, demi sekolah anak, dia harus menjual barang perabot rumahnya yang bisa dijual untuk memenuhi biaya sekolah anaknya itu. “uang daftar ulang itu tidak boleh dicicil. Ya demi sekolah anak jual barang – barang di rumah,” ujarnya.
Menurut para orang tua, seharusnya biaya daftar ulang itu kalau tidak bisa gratis, sebaiknya bisa dicicil. “Kalau dicicil setiap bulan atau berapa kali, itu bisa meringankan beban kami sebagai orang kecil,” kata orang tua murid yang usahanya sebagai penjual kopi dan jajanan.

Pentingnya Pendidikan Seni Rupa Terhadap Perkembangan Otak Anak



Otak adalah organ tubuh terpenting manusia yang tak hanya sebagai pusat kontrol, tetapi juga pusat kendali, tetapi juga sebagai pusat kendali atas semua sistem dalam tubuh. Otak merupakan organ inti kecerdasan dan kemampuan berpikir manusia. Secara anatomi otak terbagi kepada beberapa bagian. Bagian terbesar disebut dengan otak bear dengan dua belahan yang terkenal dengan otak kiri dan otak kanan.
Menurut riset Prof. Regar Sperry menyatakan otak cenderung membagi aktivitas menjadi dua yaitu : aktivitas otak kiri dan aktivitas otak kanan. Bila yang satu aktif yang lain cenderung in aktif. Otak kiri berhubungan dengan logika, urutan bahasa angka, angka dan analisa. Sedangkan otak kanan akan aktif bila berhubungan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Namun dalam riset yang berbeda oleh Prof. Robert Ormstein. Dr. Robert Bloch dan Tony Iluxan membuktikan bahwa mengembangkan aktivitas otak kiri dan kanan secara harmonis dan simultan akan menggandakan kemampuan dasar secara sinergi.
 Potensi belahan otak kiri dan kanan
Pertumbuhan otak anak paling pesat terjadi pada usia 0-2 tahun, dimana volume otak akan mencapai 80 %. Akan tetapi tidak berarti bahwa perkembangan otak berhenti hanya sampai disitu saja. Volume otak anak terus berjalan hingga usia 12 tahun. Hal ini membuat pemberian nutrisi dan stimulasi bagi perkembangan otak masih tetap sangat dibutuhkan, bahkan setelah usia 12 tahun. Perlu pro aktif orang tua dalam membentuk perkembangan otak kiri dan kana secara seimbang. Untuk kecerdasan yang optimal.
 Fungsi otak kiri bagi perkembangan anak
-         Mengontrol kemampuan gerak dan fungsi tubuh sebelah kanan
-         Mengontrol kemampuan bicara dan menulis
-         Mengontrol kemampuan bahasa dan pengucapan
-         Mengontrol kemampuan menganalisa dan pengambilan keputusan
-         Mengatur logika berfikir
-         Mengontrol kemampuan berhitung

Fungsi otak kanan untuk perkembangan anak
-         Mengontrol kemampuan gerak dan fungsi tubuh sebelah kiri
-         Mengontrol kemampuan berfikir secara konseptual
-         Memahami bahasa yang sederhana atau kreatifitas isi pembicaraan
-         Mengatur kemampuan bermusik dan visualisasi 
-         Mengontrol daya ingat
-         Pengembangan imajinasi dan kreatifitas bagi anak.

Orang tua memiliki peran yang sangat strategis untuk mendukung perkembangan kecerdasan anak secara optimal. Di samping gizi yang seimbang sudah tentu menciptakan kondisi lingkungan yang mensimulasi aktivitas otak kiri dan kanan. Kenalkan anak sedini mungkin dengan warna, kosa kata, cerita dan berkreatifitas.
 Pendidikan seni berperan penting untuk perkembangan belahan otak bagian kanan
Banyak masyarakat kita (para orang tua) yang menganggap bahwa pelajaran seni khususnya seni rupa, bukanlah pelajaran penting. Apalagi bila ditinjau dari segi ekonomisnya. Karena pelajaran seni rupa selalu dihentikan dengan biaya yang besar. Sementara di pihak lain secara praktis pendidikan seni rupa dianggap tidak menghasilkan keuntungan material yang memadai.
Ditambah lagi tentang pengalaman berkesenian seseorang yang tidak memberikan jaminan apa-apa secara material. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kehidupan seorang seniman tidak menjamin kemapanan secara materi. Banyak seniman yang punya nama besar, tetapi tetapi tetap hidup miskin. Sehingga banyak orang tua yang melarang anaknya untuk menjadi seniman. Kecuali jika hanya sebagai hobi
Sementara bagi siswa sendiri pelajaran seni rupa adalah suatu yang harus diiringi dengan bakat. Jika tidak berbakat bagaimanapun cara belajarnya hasilnya tetap tidak akan bagus.
Dewasa ini diberbagai sekolah jam pelajaran untuk berkesinambungan diperkecil. Bahkan di beberapa sekolah unggul ada yang sudah dihapuskan sama sekali. Padahal menurut Prof. Ramesh Ganta (Kakatia University) “Bahwa bangsa yang menggusur pendidikan seni dari kurikulum sekolahnya akan menghasilkan generasi yang berbudaya kekerasan di masa depan, karena kehilangan kepekaan untuk membedakan nuansa baik dan nuansa buruk” (Disampaikan pada kongres international society for education through art di Asia Pasifik tahun 1994).
Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Paris, bila diteliti silabus pelajarannya ada mata pelajaran yang membantu anak lebih banyak mengetahui tentang seni : yaitu art dan mitologi. Anak-anak di sana tidak hanya tahu tentang keindahan sebuah lukisan yang terpajang tetapi juga mengetahui latar belakang pelukisnya atau perspektif sejarah ketika lukisan itu digoreskan di atas kanvas. Hal inilah barangkali yang membuat orang-orang Amerika mempunyai apresiasi yang cukup tinggi. Sejak kecil mereka dididik untuk mencintai museum dan karya seni.
Nah cobalah tanya anak-anak pelajar yang ada di sekitar kita, dalam setahun berapa kali sudah mengunjungi museum? Atau sudah berapa kalikah kita membawa anak ke museum dan pameran seni rupa? Atau bila lebih jeli, silahkan intip kurikulum sekolah anak kita, adakah di dalamnya terselip study ke museum? Mengunjungi pameran lukisan dan patung? Menghadiri pementasan teater? Menikmati musik daerah? Saluang atau Gamad atau Rabab dan Randai?
Harus kita akui dan perlu kita sadari bersama bahwa operasi seni dan budaya adalah salah satu elemen yang memperhalus karakteristik seseorang. Dilandasi kenyataan tersebut sangat penting artinya memberikan pendidikan seni rupa terhadap tumbuh kembang anak antara lain :
  1. Pendidikan seni rupa mampu memberikan kebebasan tanpa paksaan dalam pengalaman batin anak.
  2. Pendidikan seni rupa merupakan pendidikan ekspresi sebagai upaya pencerdasan anak dalam membentuk mental yang sehat jasmani dan rohani, berdisiplin penuh tanggung jawab, kritis bijaksana, berbudaya dan memiliki perasaan halus terhadap berbagai persoalan yang lahir di sekitarnya.
  3. Pendidikan seni rupa mampu menghidupkan fantasi, melatih ketangkasan berfikir diiringi ketajaman penghayatan terhadap alam sekitar serta lingkungan dimana anak-anak berada.
  4. Pendidikan seni rupa mampu mendatangkan jiwa dan raga anak-anak hingga kelak mencintai daerahnya dengan dilandasi nilai estetis dan artistik.
Lesunya berbagai cabang seni budaya luhur kita antara lain, karena absennya apresiasi masyarakat terhadap seni. Mungkin saja cara pengajaran dan pendidikan seni budaya kita baru sampai pada permukaan, belum menukik ke inti, yang membuat masyarakat kita memberikan penghargaan tinggi pada karya seni dan budaya kita.
Kekurangan dalam sistem pendidikan kita ini perlu disadari oleh para orang tua, eksekutif dan para pelaku pendidikan. Kita bersyukur dampaknya acara pekan budaya Sumatera Barat telah menjadi taman budaya setiap tahunnya. Dari acara ini tentunya diharapkan untuk tumbuh wawasan apresiasi seni dan budaya pada masyarakat sekitar.
Sayangnya dari undangan yang hadir saya tidak melihat anak sekolah/pelajar minimum perwakilan dari mereka. Hal ini hendaknya menjadi catatan tersendiri bagi panitia, bahwa untuk ke depannya, generasi muda kita dirangkul dalam setiap kegiatan seni budaya, minimal menjadi undangan. Karena dengan terjun langsung ke lapangan, setiap anak akan melihat, mendengar dan menyaksikan langsung bagaimana luhurnya keanekaragaman seni dan budaya mereka. Tentu akan sangat berbeda hasilnya dibanding hanya dengan membaca dari buku, atau mendengarkan guru bercerita di depan kelas dengan waktu yang sangat terbatas. Ini tentu saja akan memberikan stimulus yang sangat besar untuk perkembangan potensi belahan otak bagian kanan anak.